Kesenjangan Pendidikan Indonesia

“Learn from yesterday, live for today, hope for tomorrow.”

Albert Einstein

 

Indonesia merupakan negara yang memiliki model pendidikan yang paling tidak seimbang. Contoh kasus adalah pendaftaran mahasiswa baru. Setiap tahun setiap pendaftaran seleksi mahasiswa baru, para calon mahasiswa dari luar pulau jawa berbondong-bondong mendaftar di universitas di pulau jawa. Alasan mereka klasik, kualitas pendidikan ditempat tinggal mereka jauh tertinggal dari kualitas di Pulau Jawa. Memang pulau jawa menjadi pusat pertumbuhan nasional yang kemudian diturunkan ke pusat pertumbuhan wilayah, tapi sampai kapan kualitas pendidikan kita tidak merata?

Paradigma serupa juga muncul saat pendaftaran siswa baru tingkat SD/SMP/SMA. Para orang tua dengan semangat 45 berusaha memasukkan anaknya ke sekolah favorit dan tidak sedikit dari mereka menghalalkan segala cara agar anak mereka bisa duduk dibangku sekolah favorit tersebut. Kenapa para orang tua sebegitu semangatnya? Jika dipandang secara normatif, memang itu hak orang tua untuk menjamin segala yang terbaik untuk anaknya. Tapi jika hak tersebut dilaksanakan dengan menghalalkan segala cara, apakah nilai mulia itu masih mulia?

Dari dua contoh kasus yang berbeda tapi serupa tersebut, dapat kita peroleh gambaran bahwa paradigma pendidikan Indonesia masih “aneh” dan ketimpangan masih sangat terjadi. Bukankah bersekolah di sekolah favorit tidak menjamin anak tersebut bisa menjadi orang yang sangat sukses? Bukankah jaman sekarang yang menjadi pembanding antara satu individu dengan individu yang lain tidak hanya pendidikan tapi juga attitude dan kemampuan non akademik? Kalau paradigma Indonesia tidak berubah ya tidak menutup kemungkinan pendidikan Indonesia akan stagnan pada kondisi ini.

Disisi finansial, mahalnya biaya pendidikan menyebabkan banyak kalangan menyangsikan slogan “Pendidikan untuk semua”. Program BOS yang harusnya untuk membantu kalangan kurang mampu agar dapat bersekolah banyak didapati penyelewengan. Selain itu dari para orang tua kurang mampu sudah mempunyai mindset lebih baik anaknya disuruh ikut bekerja untuk menghidupi keluarga daripada bersekolah. Di PTN, jalur masuk yang mereka gunakan selain SNMPTN mereka juga mengadakan jalur mandiri yang bisa dikatakan sebagai jalur mahal. Karena SPP mereka bisa jauh diatas para mahasiswa dari jalur SNMPTN. Dengan adanya hal ini bukankah makin menguatkan adanya pandangan bahwa pendidikan PTN mayoritas hanya untuk kalangan menengah ke atas saja. Yang kalangan menengah ke bawah hanya bisa berharap di SNMPTN dan bidik misi. Jika mereka gagal dikedua program ini ya sudah mereka memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan. Aneh kan? Entah mau sampai kapan Indonesia memiliki model pendidikan seperti ini? Kalimat bijak yang disebutkan diawal hanya menjadi kalimat tanpa pernah terealisasi.

Posted in Event

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: